Hentikan Kata-Kata Keji (Hate Speech atau Ujaran Kebencian)

(KH. Husein Muhammad). Islam itu agama anti hate speech atau ujaran kebencian. Para pelakunya merupakan orang-orang yang berakhlak buruk.
Nabi Muhammaf SAW bersabda:
الا اخبركم بشراركم؟. "قالوا: بلى قال: المشَّاؤُون بالنميمة، المفسدون بين الاحبة، البَاغُون البُراءَالعنت".  (اخرجه البخاري الادب المفرد
"Maukah kalian aku beritahu tentang orang-orang paling buruk? Mereka menjawab: Ya, kamu. Nabi mengatakan: Ialah orang-orang yang kerjanya mengadu domba (menghasut), yang gemar memecah belah orang-orang yang memgasihi/bersahabat, dan yang suka mencari kekurangan pada manusia yang tidak berdosa." (HR. Al-Bukhori dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, 323 dan Ahmad, 6/459).
Islam itu agama Rahmat. Kata ini secara literal berarti kasih atau sayang. Dari kata ini terbentuk kata al-Rahman dan al-Rahim yang berarti Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Para Ahli Bahasa Arab menjelaskan makni ini lebih rinci dengan menyebut tiga makna: pertama Riqqah al- Qalbi, kepekaan hati, sensitif. Yang diterjemahkan sebagai; bukan sekedar simpati, tetapi empati. Sebuah suasana hati yang merasa sama, senasib, merasa menjadi dia.
Kedua, al-Lutfh, yang berarti kelembutan, lembut dalam ucapan (tidak kasar)  dan dalam tindakan/ memperlakukan. Ketiga, al-Maghfirah, memaafkan atau mengampuni.
Penjelasan tersebut dipahami dari ayat Al-Qur'an:
فَبِمَارَحْمَةٍمِّنَااللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْكُنْتَ فَظًّاغَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْلَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْاَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
"Maka disebabkan dari rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka meninggalkanmu. Oleh karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka pasrahkanlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya."

Dalam Fathul Makkah dan dalam keadaan kuat dan mayoritas, Nabi justru memaafkan musuh yang selalu menyakiti, memboikot, mengusir, dan berusaha membunuhnya. Beliau membebaskan orang-orang kafir yang membencinya itu. Beliau mengatakan: "Hari ini hari kasih sayang, bukan hari balas dendam."
Pada suatu kesempatan Nabi dimohon mendoakan kesengsaraan bagi orang-orang musyrik. Beliau menolak. Ini disebut dalam sebuah hadits sahih:
قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ؟ قَالَ: إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً(رواه مسلم: ٢٥٩٩
"Wahai Rasulullah, doakanlah celaka kepada orang-orang musyrik! Rasulullah memjawab: Sungguh saya tidak diutus untuk melaknat, akan tetapi saya diutus sebagai pembawa rahmat." (HR. Muslim: 2599)
 Anas bin Malik, sahabat Nabi yang membantu beliau di rumahnya selama 10 tahun memberikan kesaksiannya: 
لم يكن رسول الله سبابا ولا فحاشا ولا لعانا. (البخارى، اداب المفرد،٣٨
"Rasulullah SAW bukan seorang yang suka mencaci maki, bukan orang yang suka berkata-kata buruk dan bukan pula tukang mengutuk."

Islam hadir di atas bumi ini untuk menegakkan moralitas luhur. Yakni menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bukan untuk merusak dan menghancurkannya. (Sumber: Risalah, edisi 86)

No comments